Dinsos Trenggalek Reaktivasi 1.265 Peserta PBI BPJS, Puluhan Ribu Masih Nonaktif
Dinas Sosial Trenggalek mencatat 1.265 peserta BPJS Kesehatan PBI berhasil direaktivasi hingga November 2025, sementara lebih dari 22 ribu lainnya masih nonaktif.
02 Jan 2026 • 16:00 WIB
Reaktivasi BPS di Trenggalek terus dilakukan. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Lebih dari 22 ribu peserta PBI BPJS di Trenggalek masih nonaktif
- Reaktivasi diprioritaskan bagi warga miskin dengan penyakit kronis
- Pengajuan reaktivasi harus memenuhi syarat administrasi dan medis
KBRT - Upaya reaktivasi kepesertaan BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) di Kabupaten Trenggalek masih terus berjalan. Hingga akhir 2025, Dinas Sosial (Dinsos) Trenggalek mencatat 1.265 peserta telah kembali aktif, sementara puluhan ribu lainnya masih berstatus nonaktif.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Trenggalek, Soelung Prasetyo Raharjeng Sidjoe, menyampaikan bahwa dari hampir 24 ribu peserta yang dinonaktifkan berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Sosial, sebagian besar belum bisa direaktivasi karena tidak memenuhi persyaratan.
“Reaktivasi diprioritaskan bagi warga sakit kronis atau kondisi mengancam jiwa serta benar-benar miskin,” ujarnya.
Advertisement
Ia menjelaskan, peserta dengan kategori sakit kronis wajib melampirkan surat keterangan dari fasilitas kesehatan, sedangkan keterangan miskin harus disertai rekomendasi dari Kepala Dinsos. Seluruh berkas pengajuan kemudian diteruskan ke Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) untuk diproses lebih lanjut.
Soelung menambahkan, penonaktifan peserta PBI BPJS Kesehatan umumnya terjadi karena beberapa faktor administratif dan basis data.
“Tiga kriteria itu menyebabkan PBI otomatis nonaktif,” katanya.
Ia merinci, kriteria tersebut meliputi peserta yang masuk desil 6 hingga 10, Nomor Induk Kependudukan (NIK) belum biometrik, serta belum tercatat dalam DTSEN.
Untuk mempercepat layanan, Dinsos Trenggalek menggandeng Dinas Kesehatan dan puskesmas. Warga dengan riwayat penyakit kronis difasilitasi pembuatan surat keterangan medis, selanjutnya Dinsos menerbitkan rekomendasi miskin dan mengunggah pengajuan reaktivasi.
Bagi warga dengan penyakit kronis yang tidak rutin menjalani pengobatan, pengajuan reaktivasi tetap bisa dilakukan dengan mekanisme yang sama.
Terkait kendala di lapangan, Soelung menegaskan bahwa tidak semua peserta nonaktif memenuhi kriteria sakit kronis. Namun, bagi warga miskin yang membutuhkan layanan kesehatan mendesak, tersedia alternatif pengajuan melalui Posko Gertak agar sementara berstatus PPID.
Selain itu, Dinsos Trenggalek juga menyerahkan data pemutakhiran kepesertaan kepada pemerintah desa. Proses pembaruan dilakukan dalam dua periode selama enam bulan sejak Mei, dengan mekanisme pengusulan desil melalui musyawarah desa (musdes).
“Sejumlah desa sudah mulai mengajukan pemutakhiran,” kata dia.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement
Artikel Terkait
Cek Kesehatan Gratis di Trenggalek Terus Digenjot, Capaian Baru 24,7 Persen dari Target 2025
HIV Trenggalek Turun Tajam di Tahun 2025, Dinkes Ungkap Pola Usia dan Risiko Tertinggi