BMKG: Waspada Angin Kencang saat Cuaca Dingin
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk waspada dengan potensi angin kencang saat cuaca dingin. Kepala Pusat Meteorologi Publik, Andri Ramdhani mengatakan cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga 25 Juli 2024. "Secara umum, kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 18 - 25 Juli 2024. Dianta...
W
Wahyu AO
23 Jul 2024 • 10:46 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk waspada dengan potensi angin kencang saat cuaca dingin. Kepala Pusat Meteorologi Publik, Andri Ramdhani mengatakan cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga 25 Juli 2024.
"Secara umum, kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 18 - 25 Juli 2024. Diantaranya berupa hujan sedang - lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang," ujar Andri dilansir dari laman BMKG.
Andri menyebutkan cuaca ekstrem itu terdapat di wilayah Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan angin kencang di wilayah Banten, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Tengah.
"Kepada masyarakat di wilayah tersebut, kami imbau untuk senantiasa waspada dan siap-siaga. Utamanya apabila sedang berkendara ketika angin kencang terjadi karena dapat mengakibatkan baliho dan pohon tumbang atau menerbangkan material-material berbahaya," ucap Andri.
Andri menjelaskan, terdapat daerah tekanan rendah di perairan barat Filipina (bibit Siklon Tropis 91W) dan di Laut Filipina sebelah utara Papua (bibit Siklon Tropis 92W). Daerah ini membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Laut Filipina bagian barat, Laut Sulawesi hingga perairan timur Filipina.
Daerah konvergensi lainnya terpantau di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara bagian barat, Laut Seram, Laut Arafuru, dan Samudera Pasifik sebelah utara Papua.
"Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah tekanan rendah dan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi tersebut," kata Andri.
Fenomena intrusi udara kering/dry intrusion dari BBS melintasi wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, yang mampu mengangkat uap air basah di depan batas intrusi menjadi lebih hangat dan lembab di Sulawesi bagian tengah, Maluku, dan Pulau Papua.
Andri menambahkan, peningkatan kecepatan angin hingga mencapai >25 knot, juga terpantau di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia sebelah barat daya, hingga selatan Jawa Barat.
Lalu, laut Jawa bagian tengah dan timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Halmahera, dan Laut Maluku yang mampu meningkatkan tinggi gelombang di wilayah sekitar perairan tersebut.
Sedangkan, labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal terdapat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Papua Tengah, Papua dan Papua Pegunungan.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Lingkungan
22 Jul 2024
Cuaca di Trenggalek Dingin, BMKG Sebut Gara-gara Angin Monsun Australia
Lingkungan
20 Jul 2024
Penyebab Trenggalek Dilanda Bediding, Prediksi Sampai Bulan Agustus
News
29 Apr 2024
BMKG Prediksi Musim Kemarau pada Mei hingga Agustus 2024
Peristiwa
19 Mar 2024
Rumah Dilibas Angin, Penyebab Mayoritas Bencana Trenggalek Sepekan
Peristiwa
10 Mar 2024
12 Desa pada 7 Kecamatan di Trenggalek Porak-poranda Diterjang Angin Kencang, Berikut Data Kerusakannya
Nasional
07 Mar 2024