9 Mahkota Pengantin Nusantara: Simbol Makna dan Harapan di Setiap Budaya
Mahkota pengantin yang digunakan di momen pernikahan setiap budaya tidak hanya berfungsi sebagai penghias namun juga memiliki makna dan filosofis mendalam yang berarti doa dan harapan untuk yang mengenakannya.
03 Dec 2024 • 18:00 WIB
Mahkota Pengantin Nusantara (Instagram @/lovelya_rias_pengantin)
Ringkasan
- Siger (Sunda): Melambangkan kehormatan, kearifan, dan kesetiaan.
- Siangko (Betawi): Melambangkan kesucian, dengan hiasan 4 burung Hong mewakili 4 khalifah Nabi Muhammad SAW.
- Bulang Emas (Mandailing): Bentuk tanduk kerbau bertingkat, melambangkan hewan kurban dan harapan menghadapi tantangan rumah tangga.
- Paes Putri Solo & 7 Cunduk Mentul (Solo): Melambangkan pertolongan, dengan angka tujuh sebagai simbol keberkahan.
- Paes Ageng & 5 Cunduk Mentul (Yogyakarta): Melambangkan lima rukun Islam.
- Siger Lampung (Lampung): Menggambarkan kemandirian, keuletan, dan kehormatan pengantin wanita.
- Suntiang (Minangkabau): Melambangkan beratnya menjalani rumah tangga, dihiasi dengan bunga yang melambangkan tanggung jawab.
- Karsuhun (Palembang): Melambangkan keagungan Raja Sriwijaya dan sifat lembut serta keibuan pengantin wanita.
- Gelungan Agung (Bali): Melambangkan pengantin wanita sebagai ratu di hari pernikahan, penuh rasa syukur.
Mahkota pengantin yang digunakan dalam momen pernikahan di setiap budaya tidak hanya berfungsi sebagai penghias, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam, berupa doa dan harapan bagi pengantin yang mengenakannya.
Dilansir dari Instagram @/weddingku, berikut adalah 9 jenis mahkota pengantin Nusantara yang populer:
1. Siger Sunda

Mahkota pengantin khas Sunda ini dikenakan saat akad nikah. Siger melambangkan kehormatan, kearifan, dan kebijaksanaan yang menjadi nilai utama dalam pernikahan. Hiasan enam Kembang Tanjung di mahkota ini melambangkan kesetiaan.
Advertisement
2. Siangko

Mahkota khas pengantin Betawi ini melambangkan kesucian. Hiasannya berupa empat burung Hong yang merepresentasikan empat khalifah Nabi Muhammad SAW: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
3. Bulang Emas

Mahkota dari Mandailing ini berbentuk tanduk kerbau bertingkat, yang melambangkan hewan kurban dalam upacara adat. Tingkatannya mencerminkan harapan agar pengantin dapat menghadapi tantangan hidup berumah tangga.
4. Paes Putri Solo dan 7 Cunduk Mentul

Paes Solo berbentuk telur bebek dan dihiasi tujuh kembang goyang atau cunduk mentul. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu, yang melambangkan pitulungan atau pertolongan, dengan harapan pernikahan mendapatkan keberkahan.
5. Paes Ageng dan 5 Cunduk Mentul

Hiasan khas pengantin Yogyakarta ini dihiasi prada emas dan dulunya hanya dikenakan oleh putri dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Lima kembang goyang melambangkan lima rukun Islam: syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
6. Siger Lampung

Mahkota khas Lampung ini memiliki ujung runcing yang menggambarkan aliran sungai. Siger Lampung melambangkan kemandirian, keuletan, kegigihan, dan kehormatan pengantin wanita.
7. Suntiang

Mahkota khas Minangkabau ini memiliki berat yang melambangkan tantangan berat dalam menjalani rumah tangga. Motif bunga seperti melati, mawar, atau kecubung menghiasi Suntiang, yang juga melambangkan pengantin wanita sebagai seorang ratu yang bertanggung jawab.
8. Karsuhun

Mahkota khas Palembang ini beratnya mencapai 3 kilogram dan dibungkus warna emas. Karsuhun melambangkan keagungan Raja Sriwijaya serta sifat lembut dan keibuan dari pengantin wanita.
9. Gelungan Agung

Mahkota khas Bali ini dihiasi bunga sendat emas dengan 30-60 kembang goyang untuk menciptakan simetri sempurna. Gelungan Agung melambangkan pengantin sebagai ratu di hari pernikahan, penuh rasa syukur atas kebahagiaan yang dirayakan.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
Advertisement
Artikel Terkait
Festival Jaranan Trenggalek ke-29 Dibuka, Ini Kata Bupati Mas Ipin
Warisan Budaya: 11 Bentuk Ketupat Asli Indonesia yang Terancam Punah
Dalang Kondang Pancen Oye Meninggal Dunia, Sempat Bawakan Lakon "Sang Kokrosono" di Trenggalek
Rencana Boyong Prasasti Kamulan, Pemkab Trenggalek: Prosesnya Masih Panjang
Prasasti Kamulan yang Ada di Tulungagung Diminta Dikembalikan ke Trenggalek, Bupati Tulungagung: Kami Masih Keberatan