TRENDING

Pameran Belang Tiga: Seniman Muda Trenggalek Ekspresikan Kegelisahan Menjadi Lukisan

Terbit:

Kabar Trenggalek Gairah kesenian di Kabupaten Trenggalek terus digencarkan oleh para pemuda. Para seniman muda Trenggalek mengekspresikan kegelisahannya menjadi lukisan.

Para seniman muda Trenggalek itu adalah Kevin, Felix, dan Gilang. Mereka menampilkan karya seninya dalam Pameran Belang Tiga. Pameran itu kelompok seni rupa itu diorganisir oleh komunitas Wall Wull Street.

Diskusi seni dalam Pameran Belang Tiga
Diskusi seni dalam Pameran Belang Tiga/Foto: Kabar Trenggalek
advertisement

Pameran Belang Tiga digelar mulai tanggal 26-28 Agustus 2022. Lokasi pameran itu di Tropical Forest, jalan Nasional nomor 128, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek.

“Belang pada pameran kali ini adalah suatu representasi dari para seniman. Perbedaan antara tiap seniman yang tertuang pad tiap karya masih berada di atas warna dasar tertentu: yaitu kebersamaan,” tulis Jati Pramudya Darmastuti, kurator Pameran Belang Tiga.

Kevin Terlanjur Realis

Kevin Brinan dan karya lukisnya
Kevin Brinan dan karya lukisnya/Foto: Kabar Trenggalek

Kevin Brinan Tumate, pemuda Desa Sumberdadi, Kecamatan Trenggalek, itu memiliki julukan Terlanjur Realis. Meskipun ia merupakan seniman realis, pemilik akun @terlanjur_realis itu ingin menunjukkan bahwa seni itu sebenarnya bebas.

“Aku ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa dalam seni rupa itu tidak hanya realis. Kalau sudah masuk pameran, karyanya itu kita bebas untuk berekspresi tapi bertanggung jawab dalam karya itu,” ujar Kevin.

Dalam Pameran Belang Tiga, Kevin menampilkan karya seni realis yang ia namai “Self Potrait”. Karya itu menyampaikan ekspresi dari kegelisahan Kevin dari kondisi ekonomi yang dialaminya.

“Karyaku itu menyampaikan pesan-pesan kehidupanku. Seperti kehidupan sehari-hari ketika aku sedih senang. Kadang aku mikir, gimana sih seni itu bisa menghidupi kita? Sedangkan Trenggalek kan kota kecil,” ungkapnya.

Kadang, Kevin merasakan kegelisahan kondisi ekonomi itu ketika orderan sketsa wajah sedang sepi. Tapi, Kevin tetap semangat untuk terus berkarya di bidang seni. Di sisi lain, ia juga mendapatkan beberapa peluang dari orderan mural.

advertisement

“Kadang aku bingung antara milih terus berkarya atau pindah ke profesi lain? Dari sini kan aku sudah terlanjur masuk ke seni. Sudah nyaman, masa mau pindah ke profesi lain? Jadi aku harus konsisten di situ, masalah dapat uang gak e itu kan rejeki kalau bagiku,” ucapnya.

Melalui Pameran Belang Tiga, Kevin berharap teman-temannya sesama seniman bisa lebih produktif berkarya dan berpameran. Selain itu, ia juga ingin karya-karyanya dikenal lebih masyarakat.

“Kalau harapan diri sendiri, aku harus terus berkarya, aku lebih cepet dikenal masyarakat. Kalau udah kenal kan mungkin seperti cari-cari rejeki itu gampang,” terang pemuda berusia 25 tahun itu.

Felix PLDN

Felix Alvaro dan karya lukisnya
Felix Alvaro dan karya lukisnya/Foto: Kabar Trenggalek

Felix Alvaro Rahadian, pemuda Desa Ngantru, Kecamatan Trenggalek, itu memiliki nama panggilan PLDN. Nama PLDN itu sering tersemat di setiap karyanya yang berwujud karakter kartun.

Felix berusia 19 tahun, ia tinggal di Jalan Panglima Sudirman no. 34 Kelurahan Ngantru. Tujuan Felix mengadakan pameran itu adalah menunjukkan bahwa pameran kelompok di Trenggalek itu bisa. Sasaran pameran untuk karya-karyanya adalah anak muda.

Selain itu, Felix juga menyampaikan tujuan pribadinya. Ia ingin orang lain mengenalnya, bukan sekedar dari stigma buruk yang biasa ia dapatkan. Felix ingin orang-orang tau, bahwa ia ada dan berkarya.

“Lihatlah aku, aku ini ada di sini. Dan tidak seburuk yang kamu kira. Di sini tujuanku baik untuk menjunjung habitat [kesenian] kita,” terang Felix.

Felix menyampaikan hal itu karena sebagian teman-temannya menyepelekan karya maupun pameran yang ia lakukan. Ia tidak ingin mengikuti keinginan orang lain yang monoton, seperti tuntutan kuliah yang baik, kerja yang benar, dan lainnya.

“Kalau di keluarga besar, aku malah beda jauh. Kebanyakan kerja enak jadi polisi, rata-rata seperi itu. Tapi, ya aku ingin mengambil jalanku sendiri,” jelas pemilik akun @felixrahadian_ itu.

Jalan yang diambil Felix adalah seni. Ia menganggap karya seninya adalah arsip sejarah kehidupannya. Ada dua karakter yang ia ciptakan, yaitu Bayi Bajang dan Dobleh Kencono.

Felix mengaku, nama karakter itu dibuat oleh temannya. Tapi, setiap nama itu punya makna tentang kepribadian Felix. Ia ingin mengukir sejarahnya dalam dua karakter itu.

Pas bikin karakter dinamai Bayi Bajang, soalnya aku dulu itu ceria, dikit-dikit ketawa, terus wajahku merah. Persis ,[dengan warna karakternya] gitu. Kalau Dobleh itu aku biasanya bengong, merenung, dianggap punya kelainan mental, akhirnya namanya Dobleh Kencono,” cerita Felix bersemangat.

Karakter Bajang dan Dobleh menunjukkan style anak muda yang suka mengekspresikan dirinya dengan bersenang-senang. Seperti remaja labil yang suka membuat grafiti, main band, dan lainnya.

Felix berharap Pameran Belang Tiga bisa diingat oleh orang lain dan khususnya seniman. Ia juga ingin jika pameran kelompok bisa dilakukan oleh seniman lain dengan lebih baik.

“Aku banyak belajar ke orang-orang dan teman-teman. Ketika sudah mengadakan pameran, aku bisa berkembang dan lebih tahu konsep pameran. Harapannya, aku bisa belajar, bisa produktif dan mengadakan pameran lagi,” tandas Felix.

Gilang Pigz

Gilang Septa dan karya lukisnya
Gilang Septa dan karya lukisnya/Foto: Kabar Trenggalek

Gilang Septa Dwi Anggara, merupakan pemuda berusia 20 tahun. Gilang berasal dari Dusun Geneng Sanan, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari.

Gilang memiliki tujuan untuk memperkenalkan pameran di kalangan masyarakat. Khususnya, masyarakat Trenggalek yang belum tahu tentang pameran seni.

“Sama eksperimen, karya yang kubuat itu laku berapa kalau diandrol harga miring,” ujar Gilang.

Karya-karya Gilang lebih menampilkan flora, fauna dan lingkungan. Ia sering menggambar karakter Babi dengan gaya kartun.

Tapi, pada Pameran Belang Tiga, Gilang menampilkan beberapa karakter burung. Ada dua karakter Burung Phoenix, dan satu Burung Kolibri.

“Kalau yang burung-burung itu hasil imajinasi yang kulukiskan,” kata pemilik akun @youngpigz13 itu.

Uniknya, salah satu karya Gilang ada yang dilukis di keramik. Tepatnya, Gilang melukis di bagian dasar keramik. Ia mengaku, ingin mengeksplorasi berbagai benda di sekitarnya untuk menjadi canvas lukisannya.

Selain itu, Gilang juga membuat karya instalasi berupa kapak yang menancap di kayu. Di bagian besi kapaknya, ada lukisan mata dan gigi.

“Kalau instalasi itu penolakan penebangan liar. Sebenarnya lukisan dan instalasi kan sebenarnya nyambung. Ada lukisan mata dan gigi, itu menunjukkan monster. Sosok monster si penebang liar yang gak punya kepedulian sama lingkungan, bodo amatlah, pokok tebang tebang tebang,” terang Gilang.

Gilang berharap, Pameran Belang Tiga ini bisa membuka pintu supaya orang lain lebih mengenal karya-karyanya. Tak hanya itu, Gilang ingin orang-orang juga mengerti makna dari karya-karyanya tentang flora, fauna, dan lingkungan.

“Ke depan bakal ngelukis selain di instalasi dan keramik. Masih rencana, jangan di-spill dulu. Nanti tunggu pamerannya aja,” ujarnya sembari tertawa.

advertisement

TERBARU

Berkunjung ke Qatar, Sandiaga Uno Dapat Kejutan dari Warga Trenggalek

Kabar Trenggalek - Piala Dunia 2022 di Qatar tak hanya bola yang diproduksi dari...

Kasus Kecelakaan Akibat Mabuk, Polri Siapkan Alat Tes Alkohol dan Narkoba

Kabar Trenggalek - Kasus kecelakaan marak terjadi hampir setiap hari. Merespons kondisi tersebut, Korlantas...

Zenbook Pro 16X OLED, Laptop Untuk Konten Kreator dengan Desain Tak Lazim dan Performa Kencang

Kabar Trenggalek - Untuk kamu yang bekerja sebagai konten kreator dan sedang mencari laptop...

TOPIK TERKAIT