Harga Pertamax Naik, Warga Trenggalek Mulai Beralih ke Pertalite, Penjualan Turun hingga 50 Persen
Kenaikan harga Pertamax memengaruhi pola konsumsi BBM di SPBU Surodakan Trenggalek. Penjualan Pertamax turun hingga 50 persen, sementara Pertalite justru meningkat.
27 Jun 2026 • 08:00 WIB
Antrean warga membeli pertalite di SPBU. KBRT/Zamz
Ringkasan
- Penjualan Pertamax di SPBU Surodakan Trenggalek turun hampir 50 persen setelah harga BBM nonsubsidi naik.
- Konsumsi Pertalite meningkat dari sekitar 10–11 KL menjadi 13–14 KL per hari.
- SPBU memastikan stok seluruh jenis BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, tetap aman meski permintaan Pertalite meningkat.
TRENGGALEK – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai mengubah kebiasaan masyarakat Trenggalek saat mengisi bahan bakar kendaraan. Di SPBU Surodakan Trenggalek yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jwalita Energi Trenggalek (JET), penjualan Pertamax dilaporkan merosot tajam, sementara konsumsi Pertalite justru mengalami lonjakan.
Kepala SPBU Surodakan Trenggalek, Kurniatri Baskoro Edi, mengatakan perubahan pola konsumsi tersebut mulai terlihat setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Menurutnya, sebelum harga naik, penjualan Pertamax rata-rata mencapai sekitar 5.000 liter per hari. Namun kini jumlahnya hanya berkisar 2.000 liter per hari.
Advertisement
"Khususnya untuk Pertamina Dex, Pertamax dan Pertalite memang setelah ada kenaikan Pertamax dan Pertamina Dex mengalami penurunan penjualan signifikan. Seperti Pertamax itu setiap hari itu 5.000 liter, sekarang setelah kenaikan 2.000 liter maksimal, hampir 50 persen mengalami penurunan," ujarnya.
Di sisi lain, penjualan Pertalite justru mengalami tren sebaliknya. Jika sebelumnya rata-rata penjualan berada di kisaran 10 hingga 11 kiloliter (KL) per hari, kini meningkat menjadi sekitar 13 hingga 14 KL setiap hari.
"Sementara untuk Pertalite justru kebalikan, rata-rata 10 sampai 11 KL setiap hari, kami jadi 13-14 KL setiap hari. Dari Pertalite mengalami kenaikan penjualan dan sementara Pertamax menurun," katanya.
Ia menilai peningkatan konsumsi Pertalite dipengaruhi oleh perpindahan sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax.
Akibat meningkatnya permintaan Pertalite, antrean kendaraan roda dua di SPBU juga menjadi lebih panjang dibanding biasanya. Untuk mengurangi kepadatan, petugas menerapkan pengaturan jalur pengisian.
"Antrian panjang Pertalite di roda dua, kami siasati kalau roda duanya antrian panjang kami siasati roda dua bisa menggunakan jalur roda empat untuk pengisian BBM," jelasnya.
Meski terjadi perubahan pola pembelian masyarakat, Kurniatri memastikan stok seluruh jenis BBM di SPBU Surodakan masih dalam kondisi aman.
Untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex, pasokan dari Pertamina disebut tidak mengalami kendala.
"Untuk ketersediaan yang non subsidi kami aman, berapapun tiap hari ambil Pertamina ready stoknya," ujarnya.
Sementara itu, stok BBM bersubsidi juga dipastikan mencukupi kebutuhan masyarakat. Setiap hari SPBU menerima pasokan Pertalite sekitar 16 hingga 24 KL, sedangkan Bio Solar berkisar 8 hingga 16 KL.
"Pertalite itu biasanya 16-24 KL, kalau Bio Solar antara 8 sampai 16 KL. Ketersediaan stok cukup aman," katanya.
Untuk Bio Solar, konsumsi terbesar masih berasal dari kendaraan angkutan, terutama bus. Rata-rata penjualan mencapai 8 hingga 10 KL per hari dan hingga kini distribusi dari Pertamina berjalan normal tanpa keterlambatan.
"Solar rata-rata 8-10 KL untuk stoknya aman, tidak ada keterlambatan pengiriman. Setiap hari kami minta kiriman, khusus Bio Solar dan Pertalite," kata dia.
Ikuti WhatsApp Channel
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp!
TAGS
Advertisement