TRENDING

Makna Ngitung Batih dan Takir Plontang di Kecamatan Dongko Trenggalek

Terbit:

Kabar Trenggalek Gebyar Suro Ngitung Batih di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, dengan dipusatkan sekecamatan rutin digelar sejak tahun 2011. Hal itu disampaikan oleh Ichwan Sawaji, Ketua Panitia Gebyar Suro Ngitung Batih Kecamatan Dongko tahun 2022, Kamis (04/08/2022).

Ichwan menjelaskan, kegiatan Ngitung Batih dengan dipusatkan sudah berlangsung sejak sekitar abad ke-16 masehi dan sempat berhenti pada tahun 1965 karena ada tragedi G30S. Setelah ada peristiwa tersebut, masyarakat takut untuk berkumpul dan kegiatan Ngitung Batih hanya dilakukan di rumah-rumah.

advertisement

“Ngitung Batih itu [jika diartikan dari setiap kata], ngitung itu artinya menghitung. Sedangkan batih itu artinya keluarga. Jadi, setiap tahunnya supaya kita itu tetap diberi kekuatan, kesehatan dan keselamatan. Murah sandang, murah pangan, juga barokah semuanya itu memuji dan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk menyampaikan ucapan terima kasih,” ujar Ichwan saat ditemui di Aula Kantor Kecamatan Dongko.

Peserta arak-arakan takir plontang ikut berdoa bersama
Peserta arak-arakan takir plontang ikut berdoa bersama/Foto: Kabar Trenggalek

Ichwan menjelaskan, bahwa ngitung batih sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk setahun yang telah berlalu. Dan memohon kebaikan untuk di tahun baru yang akan dijalani.

Ikon Ngitung Batih adalah takir plontang. Yakni, sebuah nasi yang dibungkus dengan daun pisang dengan dibentuk persegi panjang. dengan setiap pokoknya yang dikaitkan dengan janur atau daun kelapa muda.

“Takir Plontang itu adalah simbol doa. Takir itu kan artinya Nata Pikir. Mengapa Plontang, karena plontang itu simbol pengawakan manusia, yakni manusia itu sifatnya lorek [belang]. Yang diberi oleh Allah SWT empat nafsu, jadi bentuk wadah takir yang persegi empat itu melambangkan empat nafsu. Yakni nafsu aulama, mainah, riya’ dan amarah,” jelas Ichwan.

Menurut keterangan Ichwan, makna keempat sudut wadah takir plontang yang diikat janur itu supaya mendapatkan nur dari Allah SWT. Sehingga, manusia tidak menggunakan keempat nafsu itu sembarangan dan digunakan sesuai porsinya sewajarnya.

Ambeng dibagikan kepada warga
Ambeng dibagikan kepada warga/Foto: Kabar Trenggalek

“Dengan begitu, setelah kita diberi nur oleh Yang Maha Kuasa jadi nyaman pikiran kita, menjadi aman, menjadi ayem. Akhirnya, setelah diujubkan [didoakan] ditaruh di depan rumah itu ada maksud tersendiri. Yakni tolak bala,” ungkap Ichwan.

Bagi masyarakat, lanjut Ichwan, kegiatan Ngitung Batih ini juga merupakan sebagai perwujudan untuk melestarikan budaya-budaya warisan nenek moyang.

advertisement

Ichwan menceritakan, leluhur terdahulu kalau berdoa itu tidak hanya secara lisan, melainkan juga menggunakan hati dan simbol-simbol melalui “ambeng” seperti takir plontang. Sehingga, selain berdoa juga diirngi dengan sodakoh makanan. Setelah didoakan, ambeng seperti takir plontang itu akan dibagikan kepada orang lain dan dimakan bersama.

Ichwan berharap agar pemuda sebagai generasi penerus mau melestarikan kebudayaan lokal, seperti Ngitung Batih ini. Selain itu, ia juga berharap supaya kegiatan Ngitung Batih ini terus mendapatkan dukungan pemerintah dari kabupaten maupun pusat. Sebab, Ngitung Batih begitu kental akan kebudayaan ketimuran.

advertisement

TERBARU

SIM Bentuknya Kartu tapi Disebut Surat, KK Bentuknya Surat tapi Disebut Kartu, Kenapa Bisa Gitu?

Kabar Trenggalek - Bukan karena kurang kerjaan, tetapi bagi kita sebagai masyarakat yang teliti,...

Pemilu 2024, PKS dan NasDem Pasang Badan Soal Dapil Trenggalek Berubah

Kabar Trenggalek - Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang sudah mendapat perhatian dari partai...

7 Bunga yang Mengeluarkan Aroma Harum saat Malam Hari, Salah Satunya Sering Dijumpai di Pemakaman

Kabar Trenggalek - Untuk menghiasi rumah, kebanyakan orang akan menanam tumbuhan. Entah di depan...

TOPIK TERKAIT