Asal-Usul Megengan dan Makna Kue Apem yang Tak Pernah Terpisahkan dalam Tradisi

Organisasi GP Ansor Desa Bangun Kecamatan Munjungan sedang menjalankan tradisi Megengan/Foto: Dokumentasi Istimewa

Sejak masih kecil, saat menjelang bulan Ramadan, kita sebagai warga Trenggalek pasti sudah biasa dengan tradisi megengan. Biasanya, kita diajak orang tua atau tetangga untuk ikut dalam tradisi megengan ini.

Namun, yang jarang diberitahu oleh orang tua maupun tetangga kita adalah asal-usul megengan dan makna kue apem.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Sebenarnya tak hanya ada di Trenggalek, di beberapa wilayah di Indonesia juga memiliki tradisi dalam menyambut bulan Ramadan. Namun, dengan bentuk, adat, dan penyebutannya.

Di Kalimantan juga ada tradisi megengan yang biasa disebut mamagang, di Sunda disebut Mungguhan, dan Betawi disebut Nyorog.

Selain itu, ada juga Balimau dari masyarakat Padang, Jalur Pacu dari Riau, Meugang dari Serambi Makkah Aceh, dan Mugderan atau Dandangan dari Jawa Tengah.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Khususnya di Jawa Timur dan Trenggalek, perlengkapan tradisi megengan yang terbuat dari bahan makanan. Biasanya, bagian ini tidak bisa dimakan dan malah dilarang oleh orang tua.

Sebelumnya, tradisi megengan dilaksanakan dari rumah ke rumah atau dikumpulkan jadi satu, seperti di masjid. Kemudian didoakan oleh tokoh agama dan sesepuh desa.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Meski sama-sama menjalankan tradisi megengan, namun setiap wilayah di Trenggalek memiliki ciri khas masing-masing. Persamaannya, megengan dilakukan untuk menyambut bulan puasa ramadan.

Apem tidak bisa lepas dari tradisi megengan. Bisa dikatakan, setiap kali ada megengan di situ pula ada apem.

Apem adalah makanan yang terbuat dari tepung dan tape. Teksturnya empuk dan lembut serta rasanya yang manis memang cocok dijadikan camilan. Lantas apa yang membuat apem begitu istimewa?

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Asal-Usul Megengan

megengan bersama gp ansor trenggalek
Megengan bersama GP Ansor Trenggalek 2023/Foto: Ansor Trenggalek

Kata megengan berasal dari kata megeng (bahasa Jawa kuno) yang berarti menahan. Dalam konteks megengan yang dilaksanakan menjelang puasa ramadan, para ahli menyimpulkan jika megengan dapat dimaknai sebagai menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Fauzi Himma Syufa dalam jurnalnya, menyebutkan jika secara etimologi “megengan” diambil dari pegang atau menyapih. Menurut ahli antropologi, Clifford Geertz, kata ruwah diambil dari bahasa Arab yang artinya orang yag meninggal atau arwah.

Kata ruwah ini juga merujuk dengan nama bulan dalam kalender jawa, yakni “Wulan Ruwah” atau bulan Ruwah. Kalau dalam kalender Islam, bulan ruwah adalah bulan Syaban.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Tradisi megengan diisi dengan acara selametan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Tujuan dari acara selametan adalah untuk mengirimkan doa kepada leluhur yang sudah meninggal.

Adanya tradisi megengan dalam budaya masyarakat Jawa yang beragama Islam sudah dimulai sejak zaman Walisongo. Seperti yang kita ketahui, Walisongo dalam dakwahnya selalu memasukan nilai-nilai dan ajaran islam dalam tradisi masyarakat Jawa.

Sehingga, terjadilah akulturasi (peleburan) budaya Islam dengan budaya Jawa yang hadir terlebih dulu ada.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Lebih lanjut, Ali Ridho dalam sebuah jurnal, di Jawa pada zaman dulu sudah ada ajaran yang kuat dan begitu melekat dalam sendi-sendi masyarakat, yakni Kapitayan, Animisme-Dinamisme, dan Hindu-Budha.

Ajaran-jaran ini begitu melekat di masyarakat Jawa dipengaruhi dengan kerajaan-kerajaan yang dulunya pernah berdiri, salah satunya adalah kerajaan Majapahit. Kendati kerajaannya berdiri satu abad, namun pengaruh kebudayaan dan kepercayaan masyarakatnya tetap ada selama dua abad.

Seiring keruntuhan Majapahit tahun 1398 M, Islam mulai masuk di Nusantara. Pada awalnya, Islam masuk di daerah-daerah pelabuhan. Saat itu Islam dibawa oleh pedagang yang berasal dari Timur Tengah.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Adanya batu nisan Maulana Maghribi (Malik Ibrahim) yang memiliki angka tahun 1419 M menjadi bukti kuat bahwa Islam telah hadir di nusantara berdekatan dengan keruntuhan Majapahit.

Kemudian, agar Islam semakin diterima di masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, maka Walisongo menggunakan pendekatan-pendekatan kultural.

Ridho menyebutkan, kehadiran Islam saat itu tidak serta-merta mengubah tradisi yang ada dengan signifikan dan kontradiktif. Melainkan Islam hadir di tengah masyarakat dengan pendekatan yang realistis, tidak ribet, dan menyatu dengan kehidupan.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Sehingga, tulis Ridho, masyarakat berbondong-bondong memeluk agama Islam. Kendati demikian, masyarakat tidak serta-merta meninggalkan tradisi yang pernah ada.

Mereka tetap menjalankan tradisi, namun do’a-do’a dan unsur-unsur di dalamnya sudah disisipi ajaran Keislaman.

Mulai saat itu, telah terjadi peleburan dua budaya yang hingga kini masih eksis. Sehingga terbentuknya tradisi yang terpadu antara Jawa dan Islam.

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Dalam budaya Jawa, tradisi Megengan merupakan budaya yang disakralkan oleh masyarakat. Hal ini karena Megengan adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Sehingga, penting bagi masyarakat Jawa untuk menunjukan nilai keislamannya melalui simbol-simbol yang ada. Selain bulan Ramadan, masyarakat Jawa juga memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulan-bulan lainnya.

Bulan yang disambut dengan tradisi Jawa yaitu Bulan Muharram (Suro), Shafar, Rabi’ul Awwal (Mulud), Rajab, Sya’ban (Ruwah), Ramadan (Poso), Dzulqa’dah (Selo), dan Dzulhijjah (Besar).

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Setiap menjelang ramadan, Megengan dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dari rumah ke rumah. Biasanya, orang-orang mengundang para tetangga untuk berdoa bersama. Setelah berdoa bersama, kemudian mereka makan bersama. 

Kenapa Ada Sajian Apem dalam Megengan?

asal usul megengan dan makna kue apem 2
Kue Apem yang menjadi sajian wajib setiap kali tradisi megengan dijalankan/Foto: Devi Irwantari

Kue apem tidak pernah terpisahkan dari tradisi Megengan. Apem begitu melekat dan menjadi sajian simbol dari megengan.

Kue berbahan dasar tepung beras ini menjadi bagian dari tradisi kejawen. Sehingga, tak heran jika kue apem selalu dipergunakan pada beberapa acara penting dan sakral. Seperti acara tasyakuran atau dalam bahasa Jawa disebut selametan.  

Advertisement - Swipe ke atas untuk lanjutkan membaca

Penyebutan istilah apem diambil dari bahasa Arab, ‘afuan’ atau ‘afuwwun’, artinya ampunan. Lalu, oleh masyarakat Jawa kemudian disederhanakan menjadi ‘apem’. Apem dalam tradisi Megengan juga menjadi simbol permohonan maaf kepada Allah SWT.

Menurut filosofi Jawa, apem merupakan simbol tolak bala dan permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Ada juga yang memaknai apem sebagai simbol rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas limpahan rezeki.

Lain halnya di kota Cirebon. Masyarakat Cirebon memaknai apem sebagai kue kebersamaan atau silaturahmi. Dalam budaya masyarakat yang terkenal dengan sebutan kota udang itu, apem dibagikan secara gratis ke sesama tetangga saat memasuki bulan Safar (bulan ke-2 perhitungan kalender Hijriyah). Selain merepresentasikan makna kebersamaan, kue bertekstur agak kenyal itu juga menjadi simbol tolak bala.

Kue apem dan megengan memang hanya sebentuk kue dan tradisi kejawen yang telah diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam. Namun, substansi maknawi dari afwan dan megengan-nyalah yang hendak diraih dalam menghadapi bulan suci ramadan.

Artikel terkait