KBRT – Dusun Nglayur, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, yang dahulu dikenal sebagai sentra industri genteng, kini mulai meredup. Warga setempat beralih mencari penghasilan lain, salah satunya dengan memproduksi reyeng (anyaman bambu untuk wadah ikan).
Pasar reyeng dinilai warga masih terbuka lebar karena selalu ada pengepul yang membeli hasil produksi.
“Reyeng tetap ada yang ngambil, banyak atau sedikit tetap laku, walaupun harganya naik turun,” ujar Amin (46), salah satu produsen reyeng di Dusun Nglayur, Jumat (29/08/2025).
Amin mengisahkan, ia mulai membuat reyeng sejak tiga tahun lalu, saat permintaan genteng menurun. Suaminya yang semula bekerja di tempat pembuatan genteng, semakin jarang mendapat panggilan.
“Awalnya, suami saya yang beli bambu dari warga lalu dibuatnya jadi belahan-belahan tipis (iratan) yang ukurannya beda-beda,” tuturnya.
Pada awal usaha, hanya Amin yang membuat reyeng. Namun kini, puluhan ibu rumah tangga di Nglayur turut menekuni pekerjaan serupa. Menurutnya, hasil produksi warga tetap terserap pasar karena ada pengepul tetap.
“Saya kemarin baru jual 1.300-an biji reyeng. Dengan harga Rp230 per biji saya dapat Rp300.000,” terangnya.
Harga reyeng disebut Amin fluktuatif, mengikuti kondisi hasil tangkapan ikan nelayan. Ia pernah menjual dengan harga tertinggi Rp300 per biji, meski pendapatan tersebut tidak sebesar saat bekerja di industri genteng.
“Membuat reyeng jadi solusi mudah bagi warga yang tidak punya modal untuk produksi genteng maupun lahan. Seperti saya, sekarang ditinggal suami merantau, tetap bisa bantu ekonomi rumah walau hasilnya tak menentu,” jelas Amin.
Dalam sehari, Amin mampu membuat hingga 100 reyeng, tergantung kondisi. Dari satu batang bambu berharga Rp15.000, bisa dihasilkan sekitar 300 biji reyeng.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor:Zamz