TRENDING

Tak Sekedar Perbaikan Jalan, Warga Tumpang Pitu Banyuwangi Minta Tambang Emas Dihentikan

Terbit:

Kabar Trenggalek Pertambangan emas di Tumpang Pitu Banyuwangi, yang menjanjikan kesejahteraan ternyata juga memberi dampak buruk bagi warga sekitar.

Berdasarkan laporan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur, keadaan Tumpang Pitu semakin mengenaskan. Kondisi awal gunung yang tampak hijau berseri-seri berubah menjadi kuning kecoklatan. Hutan di Gunung Tumpang Pitu telah dipotong habis untuk areal pertambangan.,

advertisement

Aejak 2019, WALHI Jawa Timur menyampaikan bakal ada fungsi yang hilang, yakni Tumpang Pitu sebagai kawasan vegetasi alami. Dampaknya akan begitu dahsyat, seperti hilangnya beberapa flora dan fauna endemik, hingga daya dukung lingkungan yang berangsur-angsur mengalami degradas Andreas.

 

“Hal ini akan mengakibatkan disfungsi alamiah, metabolisme alam terganggu keberadaannya, fungsi-fungsi alamiahnya secara filosofis akan hilang berserta suara-suara jeritan pohon, hewan dan manusia,” tulis WALHI Jawa Timur.

Salah satu dampak saat ini yang dirasakan warga Tumpang Pitu adalah suara bising serta jalan rusak akibat truk tambang. Hal itu disampaikan oleh Nur Aini, warga Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Aini menceritakan, pada tanggal 28 Juni 2022, warga Pesanggaran sempat memblokir Jalan Pertigaan Lowi untuk menghadang truk tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI). Warga memblokir jalan karena tidak ingin membiarkan truk tambang beroperasi seenaknya sendiri.

Penampakan Gunung Tumpang Pitu yang dirusak tambang emas
Penampakan Gunung Tumpang Pitu yang dirusak tambang emas/Foto: WALHI Jawa Timur

“Waktu itu, saya yang menjembatani warga untuk menyuarakan aspirasinya. Saya sempat stop kendaraan tambang itu,” cerita Aini.

“Kamu jangan gampang-gampang mau keluar. Saya minta ini harus mediasi dulu dengan warga, apa maunya warga. Gak usah unak unuk sak karepmu dewe [melewati jalan seenaknya sendiri],” Aini meniru ucapannya kepada orang yang mengawal truk tambang.

advertisement

Akan tetapi, pihak yang mengawal truk tidak menunjukkan iktikad baik. Mereka kembali ke kantor PT BSI, dan tidak keluar melewati jalan di Kecamatan Pesanggaran.

Warga Pesanggaran pun memblokir jalan selama tiga hari tiga malam, hingga pihak yang mengawal kendaraan tambang mau memperbaiki jalan. Saat ini, jalan di Kecamatan Pesanggaran sudah diperbaiki. Akan tetapi, keinginan sesungguhnya dari warga Tumpang Pitu adalah tambang emas PT BSI harus dihentikan.

Proyeksi citra satelit tambang emas PT BSI di Tumpang Pitu
Proyeksi citra satelit tambang emas PT BSI di Tumpang Pitu

“Saya orang tolak tambang, saya minta tambang dihentikan, bukan minta jalan. Memang saya blokir sampai tiga malam. Saya bukan pejuang perbaikan jalan, tapi saya adalah pejuang lingkungan,” tegas Aini.

“Dampak tambang itu merusak lingkungan untuk generasi yang akan datang. Pengennya pertambangan itu jangan merajalela. Makanya minta saya pertambangan dihentikan, bukan perbaikan jalan,” tandas Aini.

Apa yang disuarakan Aini untuk menghentikan tambang, tentu bukan tanpa dasar. Mengacu pada data WALHI Jawa Timur, pertambangan emas PT BSI di Tumpang Pitu sudah melawan hukum alam.

Pada tahun 2019, WALHI Jawa Timur merilis citra satelit 3 dimensi, yang menunjukkan bahwa kawasan berlereng curam yang berjarak 2-3 kilometer dari pemukiman penduduk dan lokasi pariwisata ini mestinya dikonservasi.

Nanang Edy Sularso, Dewan Daerah Walhi Jawa Timur, menjelaskan, vegetasi berkayu keras yang berfungsi sebagai pencengkeram lereng malah dihabisi demi emas yang kelak akan habis alias tak berkelanjutan. Tak cukup dirobohkan pohonnya, Tumpang Pitu juga dibom.

“Gunung Tumpang Pitu ini dibutuhkan warga karena fungsinya sebagai benteng alami dari tsunami. Dengan fungsinya yang demikian, seharusnya Tumpang Pitu dipertahankan utuh,” jelas Nanang.

Nanang menyebutkan, keberadaan tambang emas tersebut sangat dekat dengan pemukiman dan fasilitas ekonomi warga, seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

“Jika mengingat status pesisir selatan Banyuwangi sebagai Kawasan Rawan Bencana (KRB). Kebijakan penguasa menghadirkan tambang di KRB adalah kebijakan yang tidak bijak, dan meminggirkan aspek keselamatan warga” ujarnya.

advertisement

TERBARU

Siap-Siap, Ini Jadwal Pemadaman Listrik Trenggalek Besok di 11 Desa

Kabar Trenggalek - Perusahaan Listrik Negara (PLN), Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Trenggalek akan...

Otak Atik Tekan Inflasi di Trenggalek, Pasar Murah dan Bansos Jadi Andalan

Kabar Trenggalek - Pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus berpikir...

Pohon Tumbang Trenggalek, Jalan Kecamatan Bendungan Tertutup

Kabar Trenggalek - Kabupaten Trenggalek akhir-akhir ini sering terjadi bencana. Seperti angin kencang yang...

TOPIK TERKAIT