TRENDING

Sensasi Nongkrong di Kebon Salak, Cafe Shop yang Diinisiasi Pemuda Desa Gemaharjo, Watulimo, Trenggalek

Terbit:

Kabar Trenggalek Nuansa alam dan suara gemericik aliran sungai bisa kita temukan ketika bertandang ke Kecamatan Watulimo, Trenggalek. Tepatnya di Cafe Kebon Salak, Desa Gemaharjo RT 03/RW 01. Kebon Salak yang buka mulai pukul 09.00-17.00 WIB dan hari Jumat, 13.00-17.00 WIB.

Papan nama Kebon Salak sudah tidak asing lagi didengar oleh telinga. Sekitar 2015, bangunan di bawah pohon durian dan dikelilingi pohon salak yang berada di pinggir aliran sungai itu berdiri, Jumat (24/12/2021).

advertisement

Kebon Salak saat ini menjadi pusat perhatian bagi anak muda untuk mengisi postingan media sosial (medsos). Pemandangan yang indah, kolam renang, meja kursi tempat nongkrong di tengah kali dan udara sejuk menjadi daya tarik tersendiri pengunjung betah berada di Kebon Salak itu. Kebon salak juga dilengkapi dengan fasilitas gazebo, pohonan durian yang rindang, jembatan yang membelah sungai.

Baca juga: Destinasi Wisata Trenggalek Dibuka Saat Libur Nataru, Berikut Cara Scan Barcode Aplikasi Peduli Lindungi

Awalnya, Kebon Salak dibangun oleh salah seseorang bernama Hendri Kristiawan, dengan konsep pemberdayaan untuk saudara sendiri. Seiring berjalannya waktu, Kebon Salak sempat vakum lalu berpindah tangan ke pengelola lain. Hingga mulai Juli 2021, Kebon Salak dikelola oleh para pemuda Desa Gemaharjo.

Hendri yang memiliki background pebisnis mulai dari travel pariwisata dan rumah oleh-oleh jenang Blitar ini, menyerahkan tempat miliknya untuk dikelola oleh sembilan pemuda Desa Gemaharjo. Gayung pun bersambut, sembilan pemuda desa itu begitu semangat ketika mendapati tawaran dari pemilik lahan untuk mengelola Kebon Salak.

Sembilan pemuda Desa Gemaharjo mengusung tema Cafe Out Door dan menerapkan prinsip pemberdayaan partisipatif dalam menjalankan usahanya. Pemberdayaan partisipatif itulah yang menjadi latar belakang karena minimnya lapangan pekerjaan di desa. Saat ditemui di gazebo Kebon Salak, ada pengelola Kebon Salak yang sedang ngobrol santai, yaitu Lutfi, Doni, Fandi, dan Taufik.

Tempat nongkrong di tengah sungai Cafe Kebon Salak
Tempat nongkrong di tengah sungai Cafe Kebon Salak/Foto: Kabar Trenggalek

Baca juga: Pemuda Trenggalek Raih Juara 1 Lomba Film Pendek Pesona Wisata Jawa Timur

“Tentu dari tawaran itu, kami memanfaatkan dengan maksimal, walaupun setelah kita lihat banyak fasilitas yang harus dibenahi dan ditambah,” cerita Lutfi, salah satu pengelola Kebon Salak, saat ngobrol santai di gazebo Kebon Salak.

advertisement

“Potensi geliat ekonomi terkait warung kopi ini sangat besar. Nah dari situ saya dan teman-teman memandang bisa memanfaatkan untuk pemberdayaan, supaya ada manfaat kepada pemuda desa khususnya, karena fasilitas yang ada di sini perlu kita poles dan lengkapi, maka kita patungan untuk modal awalnya. Croud founding-lah bahasa kerennya” saut Doni Farochin.

Usaha rintisan pasti menemui hambatan, kata Doni, kuncinya yaitu saling komunikasi dan memberikan arahan antar sesama dengan berprinsip pada asas kekeluargaan dan keterbukaan.

Gazebo Cafe Kebon Salak, Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Trenggalek
Gazebo Cafe Kebon Salak, Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Trenggalek/Foto: Kabar Trenggalek

Baca juga: Video Bakar Hasduk Hizbul Wathan Viral di Media Sosial, Diduga Pelaku Masih Pelajar

Ketahanan dalam menghadapi hambatan itu dibuktikan oleh sembilan pemuda Desa Gemaharjo selama pandemi corona virus disaese (Covid-19). Penghasilan lumayan dan bisa memberikan gaji kepada sembilan pemuda Desa Gemaharjo sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Trenggalek.

“Kalau karyawan semuanya hampir belum ada yang pengalaman, namun semua bisa dilalui dengan metode belajar atau sinau bareng secara perlahan,” jelas Fandi, setelah minum seteguk kopi.

Menikmati indahnya alam di Kebon Salak, pengunjung bisa ditemani dengan makanan lokal singkong goreng hangat, croffle, tahu bakso, dan beberapa macam minuman hangat maupun dingin lainnya.

“Pertimbangan market [pasar], kami belum sampai bagaimana mengolah hasil bumi lokal, untuk menjadi makanan berat ataupun ringan yang sesuai dengan kebutuhan segmen pasar” kata Taufik.

“Sebenarnya banyak hal bisa kita kerjakan di desa yang bisa mendatangkan penghasilan sembari mengasah ketrampilan, modalnya hanya butuh mentor, ketekunan dan keberanian memulai.” tutup Doni dalam obrolan santai itu.

Baca juga tulisan lainnya di kabartrenggalek.com tentang WISATA:

Ikan Asap Pantai Trenggalek, Rujukan Oleh-Oleh Wisata Akhir Tahun 2021

advertisement

TERBARU

SIM Bentuknya Kartu tapi Disebut Surat, KK Bentuknya Surat tapi Disebut Kartu, Kenapa Bisa Gitu?

Kabar Trenggalek - Bukan karena kurang kerjaan, tetapi bagi kita sebagai masyarakat yang teliti,...

Pemilu 2024, PKS dan NasDem Pasang Badan Soal Dapil Trenggalek Berubah

Kabar Trenggalek - Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang sudah mendapat perhatian dari partai...

7 Bunga yang Mengeluarkan Aroma Harum saat Malam Hari, Salah Satunya Sering Dijumpai di Pemakaman

Kabar Trenggalek - Untuk menghiasi rumah, kebanyakan orang akan menanam tumbuhan. Entah di depan...

TOPIK TERKAIT