BerandaNewsKesehatanPenelitian Membuktikan Vaksin Mampu Menurunkan Penularan Covid-19

Penelitian Membuktikan Vaksin Mampu Menurunkan Penularan Covid-19

Terbit:

advertisement

Kabar Trenggalek Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Litbangkes) melakukan penelitian untuk mengevaluasi efektivitas vaksin Covid-19. Hasil penelitian itu membuktikan bahwa vaksin mampu menurunkan penularan Covid-19, Selasa (12/10/2021).

Seperti yang dilansir sehatnegeriku.kemkes.go.id, Badan Litbangkes melakukan penelitian kepada 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta. Meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum warga lainnya. Selain menurunkan risiko tertular Covid-19, vaksin juga bisa mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan.

advertisement

Penelitian dilakukan selama Januari-Juni 2021. Hal itu dikarenakan, pada periode itu terjadi beberapa gelombang peningkatan kasus Covid-19 serta adanya mutasi Covid-19 varian Delta.

Penelitian itu mengamati kasus konfirmasi positif Covid-19, perawatan, dan kematian. Ada tiga kelompok tenaga kesehatan yang diteliti, yaitu tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap (dosis kedua), dan yang belum divaksinasi. Mayoritas tenaga kesehatan mendapatkan vaksin Sinovac.

Baca juga: Sekolah Tatap Muka Trenggalek Dimulai, Vaksinasi Covid-19 Perlu Digencarkan

advertisement

Dr. Siti Nadia Tarmidzi, MEpid, juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes mengatakan, meski tenaga kesehatan sudah divaksin lengkap, masih ada 5% tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada periode April-Juni 2021. Jumlah itu lebih tinggi daripada periode Januari-Maret 2021 yang jumlahnya hanya 0.98%.

Meski demikian, jumlah tenaga kesehatan yang sudah divaksinasi lengkap dan harus dirawat, jauh lebih rendah (0,17%) daripada tenaga kesehatan yang belum divaksinasi (0,35%). Hal ini menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 yang digunakan saat ini efektif menghadapu mutasi virus Covid-19.

Dr. Siti Nadia Tarmidzi, MEpid, juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes
Dr. Siti Nadia Tarmidzi, MEpid, juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes/Foto: Setkab RI (facebook)

“Sampai saat ini belum ada penelitian ataupun bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin yang telah diproduksi dan telah digunakan di berbagai belahan dunia tidak bisa melindungi kita dari virus varian baru ini [Delta]. Vaksin yang digunakan dalam upaya kita melakukan penanggulangan pandemi COVID-19 masih sangat efektif,” tegas Dokter Nadia.

Sementara itu, jumlah tenaga kesehatan yang meninggal dalam keadaan belum divaksinasi, relatif lebih besar daripada yang sudah mendapat vaksinasi lengkap. Termasuk tenaga kesehatan yang baru mendapat vaksinasi dosis pertama, jumlah tenaga kesehatan yang meninggal karena Covid-19 relatif lebih banyak daripada tenaga kesehatan yang menerima dosis lengkap.

advertisement

Baca juga: Terhalang PPKM Level 3, Wisata Trenggalek Belum Buka

Pada dua periode penelitian di Januari-Maret dan April-Juni 2021, jumlah kasus meninggal karena Covid-19 pada tenaga kesehatan yang belum divaksin (0,03%) sama dengan tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksin dosis pertama (0,03%). Sedangkan vaksinasi dosis lengkap dapat melindungi tenaga kesehatan dari risiko kematian dengan rasio 0,001% pada periode Januari-Maret 2021 dan 0,01% pada periode April-Juni 2021.

Data-data tersebut membuktikan bahwa vaksinasi Covid-19 dosis lengkap bisa diandalkan untuk melindungi tenaga kesehatan dari risiko perawatan dan kematian karena Covid-19. Efektivitas vaksinasi dosis lengkap dalam mencegah penularan Covid-19 pada bulan Januari-Maret sebesar 84%. Dengan kata lain, hanya 2 dari 10 orang tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap berpeluang terinfeksi Covid-19.

“Ini menunjukkan vaksinasi berperan dalam memperlambat risiko infeksi Covid-19. Tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap relatif memiliki ketahanan yang lebih lama untuk tidak terinfeksi Covid-19 dibandingkan tenaga kesehatan yang belum divaksinasi,” jelas Dokter Nadia.

Efektifitas vaksin juga diperkuat dengan data pada periode April-Juni 2021, di mana ada 474 tenaga kesehatan yang dirawat karena tertular Covid-19. Namun, tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap tidak banyak yang dirawat. Jumlah tenaga kesehatan yang dirawat berkurang hingga 6x lebih rendah yakni turun dari 18% ke 3,3%.

Baca juga: Menikmati Kesejukan Wisata Kali Temon Trenggalek

Data juga menunjukkan lama perawatan tenaga kesehatan yang divaksinasi relatif lebih singkat yaitu 8 hingga 10 hari dibandingkan tenaga kesehatan yang belum divaksinasi, yaitu 9-12 hari. Dari total Tenaga Kesehatan yang dirawat (2,3%), memerlukan perawatan intensif di ICU. Mayoritas tenaga kesehatan (91%) yang memerlukan perawatan intensif adalah tenaga kesehatan yang belum divaksinasi atau baru mendapatkan vaksinasi dosis pertama.

Walaupun sudah divaksinasi, Dokter Nadia berpesan agar masyarakat tetap melaksanakan protokol kesehatan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak (3M).

“Karena kemungkinan kita untuk terpapar virus akan tetap ada namun kemungkinan untuk penderita gejala parah akan semakin kecil,” terang Dokter Nadia.

advertisement

Berita Baru

Info Kebocoran Pipa di Trenggalek, 5 Kecamatan Terdampak

Kabar Trenggalek – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Wening megumumkan info kebocoran...

Tak Penuhi Kuota Perempuan, Bawaslu Trenggalek Perpanjang Panwaslucam 3 Kecamatan

Kabar Trenggalek - Roda waktu tahapan persiapan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 terus berputar. Tak...

5 Laptop untuk Video Editing Terbaik Tahun 2022

Kabar Trenggalek - Laptop untuk video editing cukup berbeda jika dibandingkan dengan laptop yang...

Viral Hari ini

Spoiler One Piece 1058; Bounty Kru Topi Jerami dan Keberuntungan Buggy

Kabar Trenggalek - Arc Wano secara resmi berakhir pada chapter lalu, ditunjukkan dengan berlayarnya...

Berita Terkait