TRENDING

Pemkab Trenggalek Harus Putar Otak, Bosda Madin 5 Bulan Bolong

Terbit:

Kabar Trenggalek Tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) perlu memutar otak menyikapi kekurangan anggaran untuk honor para guru agama. Pasalnya, anggaran untuk mensejahterakan guru madrasah diniyah (Madin) itu masih kurang lima bulan, Kamis (21/07/2022).

Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek, Sukarodin, mengungkapkan kesejahteraan para guru madin masih terombang-ambing. Lantaran, anggaran untuk honor mereka tidak genap sampai 12 bulan atau setahun.

advertisement

“Padahal, nilai honor mereka tidak seberapa banyak, tapi masih saja kurang,” ungkapnya.

Sukarodin menjelaskan, honor guru madin sebetulnya sudah mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Sukarodin menyebutkan, ada suntikan Rp 800 juta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Trenggalek. Namun, nilai anggaran itu masih kecil karena hanya cukup untuk memenuhi honor selama sebulan.

“Pemprov melalui bantuan khusus; bantuan operasional daerah [bosda] juga masih cukup untuk memenuhi selama enam bulan,” jelasnya.

Artinya, kata Sukarodin, honor guru madin masih kurang lima bulan agar genap setahun. Oleh karena itu, komisi IV mendesak agar tidak menyepelekan kekurangan anggaran untuk honor para guru, mengingat mereka juga memiliki hak mendapatkan hasil dari keringatnya.

“Maka pada perubahan anggaran keuangan [PAK] ini perlu segera ditambah anggaran selama 5 bulan, agar cukup sampai 12 bulan,” cetusnya.

Sukarodin memaparkan, di sisi lain bosda Madin mengalami penyusutan drastis pada pada 2022. Anggaran bosda madin tersisa Rp 2,6 Miliar. Di antaranya, Rp 1,2 M bantuan dari pemerintah provinsi dan Rp 260 juta dari pemkab.

advertisement

“Anggaran ini memprihatinkan sekali. Jomplangnya terlalu jauh,” kata Sukarodin.

Bosda madin pada 2021 sebelumnya mencapai Rp 7 miliar. Meliputi, Rp 4 miliar dari pemprov dan sisanya dari APBD Kabupaten Trenggalek. Menurut Sukarodin, penurunan anggaran Bosda Madin akan membuat para pengajar di sekolah diniyah kesulitan.

Alasannya, lanjut Sukarodin, jumlah pengajar dan santri di sekolah diniyah di Kabupaten Trenggalek tak sedikit. Adapun ustaz sekolah diniyah di Trenggalek lebih dari 2.800 orang. Sementara jumlah santri mencapai 7.400-an.

“Jumlah yang sebanyak itu. Saya kira mereka [pengajar] selama ini yang memikirkan bagaimana mengajarkan anak-anak kita di Trenggalek ini tentang agama dan lain sebagainya,” sambungnya.

advertisement

TERBARU

Kampung Kopi Sengunglung, Wujud Kelestarian Alam Bumi Sumberbening Trenggalek

Kabar Trenggalek - Kopi menjadi salah satu potensi komoditas unggulan di Desa Sumberbening, Kecamatan...

Jaranan Turangga Yaksa Semarakkan Festival Mata Air Sumberbening, Potret Perjuangan Petani

Kabar Trenggalek - Sejumlah 6 anak dari SDN 1 Sumberbening berlenggak-lenggok mengikuti alunan nada...

Ritual Adat di Sumber Air Plancuran Desa Sumberbening, Warga Berdoa Tolak Tambang Emas Trenggalek

Kabar Trenggalek - Perjuangan tolak tambang emas Trenggalek tidak hanya dilakukan melalui serangkaian aksi...

TOPIK TERKAIT