TRENDING

Mengintip Lebih Dekat Pementasan Budaya Sinongkelan Desa Prambon Trenggalek 

Terbit:

Kabar Trenggalek Suara gamelan dan kendang membisik ke dalam telinga warga Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Suara gamelan itu menarik masyarakat dari halaman depan, untuk mendekat ke dalam Balai Desa Prambon.

Iringan gamelan yang selaras tersebut merupakan iringan dari pementasan warisan budaya tak benda, Sinongkelan, yang digelar setiap tahunnya secara turun menurun dalam bersih desa.

advertisement

Blangkon dan baju lurik khas Jawa Timur yang dikenakan pemeran melingkar seakan membaca mantra. Namun tidak demikian, orang melingkar itu sedang memerankan prajurit Kanjeng Sinongkel pada masa memperjuangkan rakyat.

Pemeran Kanjeng Sinongkel memakai baju putih compang-camping
Pemeran Kanjeng Sinongkel memakai baju putih compang-camping/Foto: Kabar Trenggalek

Dari lingkaran tersebut, ada yang berbeda dalam pemakaian baju. Karena kakek paruh baya dengan menggunakan udeng dan kepalanya yang dililiti tali tambang menjadi pembeda dalam Upacara Adat Sinongkelan.

“Itu Kanjeng Sinongkel mas, bajunya compang camping sebagai bentuk penyamaran waktu dulunya,” jelas Tohari, Sekretaris Desa (Sekdes) Prambon.

Tabuh kentongan 9 kali menjadi pertanda budaya sinongkel dihelat, gamelan pun tak ketinggalan untuk mengiringi. Kemelut menyan menjadikan suasana sakral dengan harum wewangian dari kayu gaharu itu.

Pemeran para prajurit pengikut Kanjeng Sinongkel
Pemeran para prajurit pengikut Kanjeng Sinongkel/Foto: Kabar Trenggalek

Warga Desa Prambon yang berperan menjadi kanjeng sinongkel menjiwai peran itu layaknya pemimpin yang gagah dan tegas walaupun menggunakan baju yang compang-camping.

Bersahut tutur dengan patih layaknya ketoprak menjadi ciri unik, pasalnya usai sahut tutur itu ada minuman yang diambil dari kwali yang diminumkan kepada prajurit.

“Kalau dulu kwali tersebut isinya tuak, dan sekarang hanya air gula saja,” ungkap Sekdes.

Jani, pemeran Kanjeng Sinongkel di Upacara Adat Sinongkelan
Jani, pemeran Kanjeng Sinongkel di Upacara Adat Sinongkelan/Foto: Kabar Trenggalek
advertisement

Ternyata terjawab, prajurit yang disirami air tersebut adalah mereka yang salah gerakan dalam Upacara Adat Sinongkelan itu. Hal demikian menjadi tantangan dan hukuman jika prajurit salah dalam gerakan.

“Kalau ada yang salah gerakan hukumannya minum air itu, jadi di pentas sinongkel itu gerakannya harus kompak,” tuturnya.

Proses Upacara Adat Sinongkelan di Desa Prambon
Proses Upacara Adat Sinongkelan di Desa Prambon/Foto: Kabar Trenggalek

Budaya yang sudah turun temurun itu menjadikan pegangan sendiri bagi masyarakat desa prambon untuk menghargai leluhur. Seperti dalam pementasan properti pendukung pun tak luput ketinggalan.

Seperti ada “Branjang”, dan “Kembang Sumpit”, menjadi kiasan yang bermakna dalam kebudayaan sinongkelan yang dimiliki Kabupaten Trenggalek ini.

Alhamdulilah setiap tahun ada sinongkelan, walaupun pada masa pandemi kemarin hanya kecil kecilan,” ujarnya.

advertisement

TERBARU

Dikabarkan Putus dengan Happy Asmara, Denny Caknan Asyik Ngopi Bareng Prabowo 

Kabar Trenggalek - Artis dangdut Denny Caknan akhir ini dikabarkan putus cinta dengan Happy...

Jadwal Pelayanan dan Syarat Membuat SKCK Online di Polres Trenggalek

Kabar Trenggalek - Kepolisian Resor (Polres) Trenggalek mengumumkan informasi pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian...

Apresiasi Daya Saing Digital Daerah, Trenggalek Raih Perhargaan EV-DCI 2022 Tingkat Nasional

Kabar Trenggalek - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek meraih penghargaan tingkat nasional. Penghargaan itu diberikan...

TOPIK TERKAIT